Pemain judi online sering mengaku: “Kalau menang, baru deh nabung.” Tapi faktanya, uang kemenangan hampir selalu kembali ke meja permainan.
Mengapa begitu sulit bagi mereka untuk menabung?
Psikolog keuangan Dr. Nina Oktaviani dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa hal ini terkait dopamine loop—lingkaran kecanduan yang membuat otak mengejar sensasi, bukan nilai uang.
“Begitu menang, otak langsung mengasosiasikannya dengan keberuntungan, bukan kerja keras. Maka uang itu tidak dianggap bernilai—ia dianggap alat untuk menambah sensasi,” ujar Nina dalam seminar Financial Behaviour and Risk Addiction (2024).
Penelitian Bank Indonesia tahun 2024 menunjukkan, kelompok masyarakat yang aktif bermain judi online memiliki tingkat tabungan 40% lebih rendah dibanding populasi umum di kelompok usia yang sama.
Bahkan lebih parah, 1 dari 3 penjudi online aktif diketahui memiliki pinjaman pribadi atau menggunakan paylater untuk menutup kerugian.
Dengan kata lain, mereka bukan tak bisa menabung—mereka kehilangan kendali atas nilai uang. Judi online bukan hanya soal kalah-menang, tapi soal hilangnya kemampuan mengelola diri secara finansial.



