Dalam budaya kita, rezeki identik dengan kerja keras dan kejujuran. Tapi di dunia digital, banyak yang salah kaprah menganggap menang judi online sebagai “rezeki cepat”. Padahal, rezeki tidak datang dari sistem yang dirancang untuk menipu peluang.
Peneliti sosial digital, Dr. Adi Fahrudin dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dalam studinya tahun 2024 menyebut judi online sebagai “model bisnis kehilangan massal”—karena keuntungannya dibangun di atas kerugian banyak orang.
“Permainan ini bukan tentang keberuntungan. Ia adalah industri miliaran dolar yang hidup dari ketidaktahuan finansial masyarakat,” tulis Adi dalam penelitiannya Online Gambling Addiction in Indonesia (2024).
Operator situs judi memanfaatkan strategi mirip pyramid scheme: pengguna baru diberi kemenangan kecil untuk menumbuhkan rasa percaya, lalu perlahan disedot lewat taruhan lebih besar.
Sementara influencer dan afiliasi mendapat komisi dari jumlah pemain yang kalah—bukan dari yang menang.
Jadi, kemenangan besar yang sering ditampilkan di media sosial hanyalah umpan. Kenyataannya, 90% pemain mengalami kerugian total dalam tiga bulan pertama bermain, menurut riset Asian Racing Federation (2023).
Rezeki sejati tidak pernah datang dari manipulasi. Judi online bukan rezeki—ia adalah sistem yang merampas.



